SiColek: Sistem Coblos Elektronik untuk Pemilihan OSIA
Pemilihan ketua organisasi santri tanpa kertas suara: santri masuk dengan kartu QR, memilih di bilik komputer, dan hasil langsung tampil di layar aula begitu pemungutan ditutup.

Pemilu kecil, pelajaran besar
Setiap tahun santri Ibnu Aqil memilih ketua dan wakil ketua OSIA (Organisasi Santri Ibnu Aqil) untuk putra dan putri. Bagi banyak santri, ini pengalaman pertama mereka memberi suara. Kami ingin pengalaman itu terasa sungguhan: rahasia, satu orang satu suara, dan hasilnya bisa dipercaya semua pihak.
Dengan kertas, hal-hal itu mahal. Surat suara harus dicetak dan dihitung satu per satu, penghitungan bisa berjalan sampai malam, dan sengketa kecil soal surat suara yang sah atau rusak sering muncul. Daftar pemilih juga dicocokkan secara manual, sehingga sulit memastikan tidak ada yang memilih dua kali atau terlewat.
SiColek (Sistem Coblos Elektronik) memindahkan seluruh proses itu ke aplikasi web yang berjalan di laboratorium komputer pondok. Sistem ini pertama dipakai pada 2022 dan terus kami perbaiki setiap musim pemilihan, mulai dari cara masuk, tampilan kandidat, sampai rekap untuk panitia.
Alur di hari pemilihan
1. Masuk dengan kartu. Panitia mencetak kartu pemilih ber-QR untuk setiap santri dari panel admin. Di bilik, santri cukup menekan tombol QR lalu menghadapkan kartunya ke kamera, tanpa mengetik username dan password. Guru dan staf bisa masuk dengan kartu RFID yang sudah mereka pakai sehari-hari.
2. Pilih kategori. Setelah masuk, pemilih disapa dengan namanya dan diminta memilih kategori: Banin (putra) atau Banat (putri). Kategori yang bukan haknya tampil abu-abu dan tidak bisa ditekan.
3. Pilih kandidat. Setiap pasangan tampil dengan poster, nama ketua dan wakil, nomor urut, serta visi dan misi yang bisa dibuka sebelum memilih. Pilihan dikonfirmasi sekali lagi sebelum dikirim.
4. Suara tercatat. Layar terakhir menampilkan tanda bahwa suara sudah masuk beserta pasangan yang dipilih, lalu pemilih keluar agar bilik siap untuk orang berikutnya. Bila nomor HP pemilih terdaftar, sistem juga mengirim pesan WhatsApp sebagai bukti.
Menjaga satu orang, satu suara
Aturan paling penting dalam pemilu justru yang paling mudah bocor di aplikasi: pemilih yang menekan tombol dua kali, atau membuka dua tab sekaligus. SiColek menjaganya di sisi server, bukan di tampilan.
- Setiap suara disimpan di dalam transaksi basis data yang mengunci baris pemilih. Dua permintaan yang datang hampir bersamaan dari pemilih yang sama tidak bisa sama-sama lolos; yang kedua ditolak dengan pesan “sudah pernah melakukan vote”.
- Suara hanya diterima saat sesi pemungutan dibuka oleh admin. Sebelum dan sesudah jam pemilihan, tombol memilih tidak berfungsi meski halaman masih terbuka.
- Hanya akun berstatus aktif yang bisa memilih, dan data pemilih disinkronkan dari data santri dan guru pondok, sehingga daftar pemilih tetap sama dengan data sekolah, bukan diketik ulang.
Rekap tanpa menunggu malam
Panel admin menampilkan jumlah suara masuk, partisipasi, dan perolehan per pasangan secara langsung, terpisah untuk kandidat putra dan putri. Panitia juga bisa melihat daftar pemilih yang belum memberi suara untuk dipanggil sebelum sesi ditutup.
Setelah pemungutan selesai, berita acara dibuat otomatis dari data yang sama, lengkap dengan catatan teknis sistem, lalu dicetak untuk ditandatangani panitia dan kepala sekolah. Hasil akhirnya diumumkan di aula melalui tampilan “Voting Board” di proyektor.
Di balik layar, aplikasi ini terdiri dari antarmuka Next.js dan Ant Design serta layanan Go (Fiber) dengan PostgreSQL. Laporan perolehan suara disimpan sebagai cache yang otomatis dibangun ulang setiap kali ada suara baru, sehingga dasbor tetap ringan meski dibuka panitia berulang kali.
Status
SiColek dipakai untuk pemilihan OSIA sejak 2022. Pada pemilihan terakhir, 370 pemilih memberi suara: 330 santri dan 40 pemilih di luar santri. Versi 2025 dibangun ulang dengan tumpukan teknologi di atas, ditambah login kartu RFID untuk guru dan staf.


